Archive for Juni, 2007
SURAT CINTA
SURAT CINTA
April 10th, 2007 at 6:10 am (SURAT CINTA)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..
Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada
My Dear….
Gue suka banget dengan puisi ini. Asli! Padahal bait puisi, senandung milik Sapardi Djoko Damono ini sebenarnya terlampau pendek untuk sebuah ungkapan cinta, tak sepanjang roman-roman cinta yang biasa dipakai para pujangga dan pembual untuk merayu kekasihnya. Akan tetapi bait di atas gue pikir mewakili sebuah cinta yang betul-betul tulus. Makanya gue bela-belain nulis puisi itu sebagai preambule.
Karena cinta adalah aktivitas personal, aktivitas yang tak menginginkan balasan. Oleh karena itu gak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau cinta ya cinta, ya udah. Karena cinta yang mengharapkan balasan, sejatinya bukanlah cinta. Ketika mencinta, itulah budi bahasa kalbu yang segenapnya dicurahkan. Ikhlaskanlah deras curahan itu mengalir. Bahkan, ketika yang dikasih, balas menyakiti, tidak sepantasnya kita menagih cinta itu lagi. Karena cinta kita semestinya setulus cinta dari kayu kepada api, walaupun sang api yang dikasihi menyakitinya dan menghitamkannya. Seikhlas cinta awan kepada hujan. Walaupun dengan hujan itu awan menjadi tiada. Deuu.. romantis yaa… gue orangnya memang romantis kok, hehehe..
My Dear..
Bicara cinta yang agung, selayaknya kita iri dengan cintanya alam semesta, cinta sang matahari yang setia jutaan tahun menyinari bumi, setiap hari tanpa sekali pun ingkar janji. Padahal apa balasan bumi? Sebagaimana kasih pepohonan yang merelakan sebagian tubuhnya dilubangi, dikotori oleh burung-burung demi menyediakan tempat berhuni.
Dan cinta…. gue sepakat dengan lagu lama yang disenandungkan ulang oleh Balawan
Kalau kau benar-benar sayang padaku
Tak perlu kau ungkapkan semua itu
Cukup tingkah laku
Semua bisa bilang cinta
Semua bisa bilang…
Apalah artinya cinta
Tanpa kenyataan
Karena cinta adalah bahasa kalbu, yang wujud dalam bahasa tingkah laku. Maka cinta sejati bukanlah mainan gerak bibir, tapi cerminan pengorbanan hakiki. Ya tokh?
Alangkah agungnya karunia ini, andainya tidak ada cinta apalah jadinya semesta. Seorang ibu akan melemparkan jabang bayinya ketika terlahir, sang induk ayam akan memakani daging anak-anaknya. Rembulan tak akan mau begadang saban malam menemani makhluk-makhluk dunia.
Namun, My Dear
Karena cinta adalah sebuah cahaya agung yang disematkan Allah ke segenap makhluknya, sebuah cahaya dari Cahaya.
Maka demi cinta… maka sudah sepatutnyalah cahaya itu tunduk patuh kepada si pemberi cahaya.
Cinta bukan sembarang senjata yang bisa sekehendak hati dimain-mainkan oleh manusia.
Cinta adalah fitrah. Maka gunakan fitrah itu sesuai dengan fitrahnya….
”Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada Perjuangan di jalan-Nya..
Cinta yang kedua adalah cinta kepada Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat, Istri, anak, harta, perniagaan…
Cinta yang ketiga, sejatinya adalah cinta yang sungguh hina, adalah cinta yang menomorduakan cinta yang pertama, sembari mengutamakan cinta yang seharusnya dinomorduakan.
Apalah lagi cinta kepada kemaksiatan, dan cinta kepada musuh-musuh-Nya, maka cinta yang ini tidak berhak disebut sebagai cinta”.
Begitu kira-kira intisari firman Allah, Sang MahaCinta dari surah atTaubah.
Ah, resah rasanya, gundah gulana, karena selama ini kita telah terperosok dengan menomorduakan-Nya
My Dear,
Gue malu pada Allah, bahwa selama ini apa yang kita agungkan sebagai cinta nyatanya hanyalah kubangan maksiat belaka. Kita nodai cinta yang mulia. Allah yang memberi cinta namun kita hancurkan karunia itu dan kita gunakan di kubangan lumpur dosa. Sungguh kita manusia tak tahu diri…
Sungguh nista…
Kita abaikan perintah-Nya, yang sejatinya adalah perintah dalam rangka kecintaan-Nya kepada makhluk-Nya.
Kita durhakai Dia dengan malah mengerjakan larangan-Nya. Padahal larangan-Nya sebenarnya adalah karena sayangnya Dia kepada makhluk-Nya.
Ketika Dia mensyariatkan jalan cinta yang sejati… malah bilik hati kita menertawakan, kita anggap Pacaran atau apalah namanya… sebagai ’sebenarnya cinta’
Ketika Dia larang untuk mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dalam bercinta, sekali lagi kita anggap kuno larangan itu sembari bersuka ria dengan Valentine atau apalah namanya…. dengan sombongnya kita katakan hari itu sebagai ”hari cinta”
Betapa angkuhnya kita di hadapan Yang Mencipta dan Yang Memiliki.
My Dear,
Allah… ArRahman…. arRahiim.. semesta bertasbih kepada-Nya, dedaunan, rerumputan, gunung-gunung bebukitan, kuman terkecil hingga gajah dan jerapah. Semua tak pernah berhenti menyebut asma-Nya.
Dan manusia…. bahkan seharusnya manusialah yang lebih banyak mengagungkan dan mencurahkan cinta kepada-Nya. Karena manusia diberi akal, manusia dijadikan pemimpin bagi semesta.
Dan kecintaan mana lagi yang lebih besar, dibandingkan dengan mengokohkan ketakwaan, mengagungkan syariat-Nya, meneladani sunnah Rasul-Nya dan mengabdikan diri semata untuk perjuangan di jalan-Nya.
Maka, kalaupun kita saling mencinta jadikanlah cinta kita adalah cinta yang kedua, jauh di bawah kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan Jihad di jalanNya. Biarlah loe jadikan gue yang kedua! Yang penting di barisan cinta pertama loe adalah cinta kepada Allah. Cinta mana yang lebih mempesona daripada itu…
Dan bila suatu saat kita kumandangkan cinta, maka jadikan kumandang cinta itu adalah cinta semata-mata karena Allah, seraya kita buang jauh-jauh cinta semu yang selama ini telah melenakan.
My Dear,
Cinta gue cinta sejati… bukan cinta semu… seperti dengan besar mulut dikatakan orang yang berpacaran ”engkaulah cinta sejati, cinta gue hanya untuk loe, sehidup semati” Ugh, betapa angkuhnya bila demikian. Sehingga dia menganggap sepi cinta-cinta yang lain, dan menganggap sejati kemaksiatannya.
Namun, gue akan mengatakan begini, ”Gue cinta elo, tapi gue lebih cinta Allah. Cinta gue telah banyak kebagi-bagi buat Allah, buat Rasul, buat perjuangan Islam, buat Ortu, buat saudara-saudara muslim… sisanya buat elo paling cuma beberapa persen. Tapi gue akan mencintai loe dengan tulus ikhlas sebagaimana cinta Rasul kepada Khadijah, cinta Ali kepada Fatimah.”
Gue juga gak bakalan mau kayak Romeo yang sudi mati demi Juliet. Enak aja! Mati apaan kayak gitu, gak keren banget. Gue pengen kita nantinya sama-sama mati syahid, entah itu di medan jihad atau di tiang gantungan akibat penyiksaan orang-orang kafir. Wuih, keren gak tuh.
Gue juga gak janji bakal ngasih kemewahan. Maka siap-siaplah tinggal di rumah kontrakan yang…. yaaah mirip-mirip rumahnya Abu Dzar alGhifarilah, yang bila berdiri kepala kesantuk atap, bila bersonjoran kaki menyentuh dinding
Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang sejuta kali lebih cantik daripada elo. Elo gak ada seujung jarinya tuh.
My Dear,
Terakhir, biarlah cinta ini disimpan dalam bilik-bilik kalbu kita. Jangan sampai syaitan bisa mengambil kesempatan menyeret kita untuk menodainya. Biarlah kita tabung, kita pelihara dan kita kerangkeng… hingga nanti Allah sedia mempersatukannya dalam ikatan yang sah dan Dia ridhai
Oke?
Amiiin!
(disadur dari seorang teman di blog sebelah)
Add comment Juni 27, 2007
Mama….salahkah aku mencintainya??
Mama….salahkah aku mencintainya??
Aku terkedu apabila soalan itu keluar dari mulut mungil itu lalu singgah di telingaku beberapa tahun lalu. Ya. Aku baru sedar bahawa puteriku sudah remaja, sudah mengenali alam percintaan. Namun apa boleh ku buat, dia telah jatuh cinta!
Apakah yang bakal ku ‘bual’kan kepadanya tentang cinta. Aku mencongak kata-kata yang bakal ku susun, agar dia tidak akan lari dari aku. Aku bertekad untuk menjadi ibu yang mendengar. Jika aku gagal. Aku akan kehilangannya buat selama-lamanya.
Apakah cinta itu sebenarnya? Bagaimana Islam memandang cinta? Bagaimana pula jika cinta telah menghampiri kita?
- Cinta atau mahabbah asalnya bermakna bening dan bersih. Boleh diartikan juga air yang melimpah ruah selepas hujan turun dengan lebatnya. Oleh itu boleh disimpulkan al Mahabbah sebagai luapan hati dan gelojak rindu ketika diselubungi keinginan untuk bertemu dengan kekasih. Cinta boleh membawa sengsara namun boleh juga membawa bahagia. Ianya bergantung kepada bagaimana kita mengurus cinta itu. Islam memandang cinta terhadap berlainan jenis dalam 3 perspektif :
- Menyintainya kerana Allah (mendekatkan diri pada Allah dan mentaatiNya). Ini termasuk cinta yang bermanfaat. Contohnya cinta suami isteri yang bernikah untuk menjaga dirinya dari perkara maksiat dan juga bernikah kerana mengikuti sunnah Rasulullah menyambung generasi pejuang.
- Cinta yang mendatangkan murka Allah. Lebih kita kenali sebagai cinta kerana nafsu berahi. Cinta inilah yang memalingkan kita dari Allah, membuat kita lupa akanNya dan mendorong untuk melanggar syariatNya. Firman Allah yang bermaksud “Dan di antara manusia ada orang yang mengangkat sesembahan selain Allah, mereka mencintai sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat cintanya pada Allah. Dan Allah tidak akan menunjuki orang-orang fasik.” ( al-Baqarah :65. Cinta yang mubah (harus), adalah cinta yang tidak ada unsur kesengajaan. Misalnya ‘cinta pandang pertama’ yang tidak sampai kita membuat maksiat kepada Allah. Kita merahsiakannya dan menahan diri kita untuk tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang.
Jadi bagaimana kita menanggapi dan mengurus perasaan cinta yang menghampiri kita?
Mana mampu kita hendak menolak cinta yang datangnya tanpa diundang. Memang perasaan cinta tidak boleh ditahan dan dibendung cuma kita hendaklah berlaku jujur dan menyalurkannya mengikut kehendak syariat. Perasaan ‘cinta suci remaja’ memang biasa diucapkan Cuma dalam hal ini syaitan memainkan peranan dalam menggelincirkan kitakepada kemungkaran dan larangan Allah. Memang adat bercinta semuanya mendakwa cinta mereka ikhlas dan suci murni tetapi syaitan memainkan peranannya sehingga tidak kita sedari ia banyak melanggar larangan Allah. Ingatlah bahawa setiap yang haram itu adalah haram walau apa keadaan sekalipun cuma kita yang kadang-kadang cuba ‘menghalalkannya’ dengan membuat pelbagai alasan, itu dan ini. Di sisi Allah ia adalah satu dosa dan setiap dosa layaknya adalah neraka.
Apa kata kita lihat hadis Rasulullah ini dalam sunah Ibni Majah : “Tidak ada yang lebih patut bagi dua orang yang saling mencintai kecuali nikah”
Apa? Nikah?!!, Tidak mungkin… sekolah pun belum habis, bagaimana nak bernikah?
Marilah kita lihat apa yang dikatakan pencipta kita : “Janganlah kalian dekati zina…” (al Isra’:32)
” Ah, terlalu ekstrim! Takkanlah bercinta dianggap mendekati zina?” Tapi bukankah kita pernah dengar sabda Rasulullah: “Janganlah engkau bersendirian dengan seorang wanita… Tidaklah bersendirian diri dengan seorang wanita kecuali ketiganya syaitan…” (hari Tabrani). ” Kedua tangan juga dapat berzina dan zinanya adalah menyentuh dan kedua kaki juga berzina dan zinanya adalah berjalan (menuju tempat maksiat) dan mulut juga berzina dan zinanya adalah ciuman” (hari. Muslim dan Abu Daud)
Anakku, kamu seorang remaja Muslim yang baik, tidak akan berdalih lagi untuk mengelak dari perkataan Allah dan RasulNya. Mampukah anakku tidak berdalih lagi? Umpamanya kerana kasihan, kerana ingin mendakwahinya, kerana boleh menasihatinya, kerana mencari rakan diskusi intelek, dan sebagainya.
Jadi mama, apa penyelesaiannya?
Bagi anakku yang sudah jatuh cinta, rasakan cintamu dalam hati, berusahalah untuk melupakannya buat sementara waktu dan sibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat. Tahanlah dirimu dari hal-hal yang dilarang agama seperti mengelamun, berangan-angan dan membayangkan wajahnya yang tampan dan menggoda. Bersabarlah menghadapi ujian cinta ini. Jagalah batas batas pergaulan. Peliharalah kehormatan diri. Jangan biarkan cinta yang mubah ini menjadi cinta yang salah. Berdoalah kepada Allah agar dipertemukan kamu jika dia paling sesuai untukmu, agamamu dan keluargamu. Apabila tiba masanya nanti, apabila jodohmu ada insyaAllah kamu akan ditemukan dalam hubungan yang diredhai Allah.
Pun begitu perhatikanlah juga perkara-perkara di bawah ini agar hatimu tidak mudah menjadi rawan :
- Tundukkan pandanganmu dari perkara-perkara yang boleh menaikkan nafsu. Ataupun janganlah merenung kaum berlawanan jenis (an Nur:30-31)
- Hindari berdua-duaan dan ikhtilat (campur gaul tanpa batasan). Elakkan berinteraksi dengan bukan mahram dengan perkara-perkara kurang penting yang melalaikan.
- Hindari dari menonton filem atau drama atau cerita cinta yang mengasyikkan dan mengghairahkan nafsu.
- Hindari bacaan/novel yang menghanyutkan hati kita lantas tergoda dengan perangkap cinta palsu.
- Hindari lagu-lagu cinta kerana boleh melemahkan hati dan memendekkan cita-cita.
- Sibukkan dengan mengaji dan berzikir. Bergaullah dengan kawan-kawan yang baik kerana kadang-kadang hati kita kalah kepada ‘cinta’ ini kerana kebodohan kita terhadap ilmu agama dan lemahnya iman kita.
- Apabila kita telah mempunyai seorang ‘teman akrab’, cukuplah kiranya kita fahami maksud firman Allah “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata “Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku. Kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku (kekasihku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku al-Quran ketika al-Quran telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mahu menolong manusia” (al-Furqan”27-29). Maka janganlah kita menyesal dikemudian hari kerana terlanjur mengambil seorang ‘teman akrab’ yang kononnya menyintai kita.
- Puasalah untuk meredam perasaan nafsu dan rindu. Ingatlah firman Allah yang bermaksud: “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempatnya” (an-Naziat:40-41).
- Bernikah sahajalah jika sudah benar-benar mampu dari segi fizikal, kewangan, emosi dan intelekmu.
Aduhai mama, susahnya!
Boleh jika kamu mahu, jangan bersedih. Syurga itu kan lebih indah. Dalam sabda Rasulullah juga bersabda bahwa jika kita meninggalkan sesuatu yang disukai manusia tapi dibenci Allah maka Allah akan mencukupkan diri kita dari sesuatu yang kita perlukan.
Alangkah baiknya Allah, sanggupkah kita mengkhianatiNya? Bukankah Dia yang telah mencipta dan memelihara kita selama ini? Tidakkah Dia lebih baik dan sesuai, maka pantas untuk dicintai? Rasulullah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang hamba sehingga ia lebih mencintai Allah daripada mencintai anaknya, orang tuanya dan semua manusia”
Siapakah yang dapat menolong kita di hari akhir nanti? Kekasih kita kah? Tentu tidak. Oleh kerana itu tetaplah tersenyum dan berlapang dada dalam menghadapi cinta ini. InsyaAllah, Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, kekasih yang suci dan soleh/solehah yang bergelar suami/isteri, di dunia dan syurga di akhirat nanti, insyaAllah.
Namun anakku, jika kamu dan kekasihmu sudah tidak boleh dipisahkan lagi, cintamu sudah terlalu mencengkam kalbu, tidurmu sudah tidak lena lagi, makanmu sudah tidak lagi kenyang, mandimu sudah tidak lagi basah, mama relakan perkahwinanmu. Mama akan aturkan pernikahanmu secepat mungkin, demi menjaga kesucian syariat dan memelihara satu rantaian zuriat masa depan yang bersih,suci dan soleh sepanjang generasi zaman. InsyaAllah…
(Sumber : Majalah Perspektif(JIM) Jan/Feb 2005)
Allahu ta’ala a’lam
Add comment Juni 23, 2007




